Minggu, 29 Januari 2006
Minggu, 29 Januari 2006
Ketika penat merasuk raga
Hanya hampa terasa..
Kegalauan berkelana
Semangat pun di luluh-lantakan
Ketika jiwa memberontak
Hanya hati yang merasa..
Menggugat kesengsaraan
Amarah pun nyata menjelma
Jiwa dan raga seketika ingin berteriak
Berteriak pada keadaan yang ada
Mengejawantahkan penolakan situasi
Pun mengaduh pada sang waktu
Katakan bahwa ada anak manusia yang letih
Disini…
Kemana pikiran ini akan kubawa berlari
Dari tempat ini….
Eka Pratiwi & Septino Andarswesa
Petok
Pkl 02:09
Minggu, 18 Desember 2005
Bogor
PETOK
Lincah geraknya
Berlari dengan lantang
Begitu montok dada dan pantatnya
Cicit cuitnya menggoda untuk didengar
Bersemangat dalam kemungilan tubuh
Sungguhlah punya keberanian untuk hidup
Septino Andarswesa
Pkl 02:22
Trilogi Masa
Pkl 01:09
Sabtu, 17 September 2005
Bogor
TRILOGI MASA
Saat kau duduk dekat jendela dalam sebuah kereta kencang
Semua pemandangan buruk yang kau lihat akan segera berlalu,
walau kau ingin lebih cepat melewatinya
Dan semua pemandangan indah yang kau lihat juga akan segera berlalu,
walau kau ingin lebih lama menikmatinya.
Karena kereta terus melaju membawamu kepada stasiun penantian
Begitu pula dengan hidup
Masa lalu yang tiada indah adalah tragedi yang menyedihkan
Masa lalu yang indah adalah komedi yang menyegarkan
Namun kedua masa lalu tersebut sudah menjadi cerita sejarah.
Sang Masa Lalu memang pasti berlalu, dan tak akan kembali
Sang Masa Depan adalah tujuan, harapan dan cita
Semuanya menjadi impian kehidupan
Masa depan menjadi begitu diagungkan
Kehadirannya begitu dinantikan dan patut diperjuangkan
Membuat kita bekerja keras mewujudkannya
Namun perlu direnungkan
Ketika masa depan sudah dalam hadirat
Sang Masa Depan juga pasti akan berlalu
Dan akan menjadi Sang Masa Lalu
Begitu selanjutnya kedua masa itu akan saling menyongsong
Terus saling menggantikan hingga kita kembali menjadi debu dan tanah
Cara terindah untuk menikmati kedua masa itu adalah menikmati masa sekarang
Sang Masa Sekarang adalah jalan keluar
Karena saat ini bukanlah kerinduan masa lalu
Dan karena saat ini adalah perjuangan masa depan
Septino Andarswesa
Pkl 01:21
Mei Tujuh Tahun Yang Lalu
Pkl 01:46
Kamis, 12 Mei 2005
Bogor
MEI TUJUH TAHUN YANG LALU
Empat pemuda bangsa gugur di grogol
Tepat tanggal 12 Mei sore hari
Tewas tanpa mengerti siapa yang membunuh
Koh Irfan kehilangan semuanya,
Termasuk istri dan dua anaknya yang mati terbakar
Dibakar hidup dalam ruko miliknya
Nona “C” pun telah kehilangan mahkota hatinya
Dirampas oleh orang-orang yang mengaku pribumi
Terlalu banyak api angkara yang lahir
Hingga menjadikan langit merah
Terlalu banyak air mata dan darah mengalir
Hingga akhirnya tanah basah dan juga memerah
Memang “sang raja” akhirnya turun tahta
Namun terlambat dan tak berarti apa-apa
Mereka, teman mereka, dan keluarga mereka terlanjur terluka
Terluka sangat dalam
Apakah cerita ini hanya akan menjadi sebuah kisah
Tentang sejarah kelam sebuah tanah kelahiran
Dari bangsa yang tidak menghargai pentingnya sebuah pengalaman
Tujuh tahun telah berlalu
Masih tetap tidak ada jawaban
Atas berbagai penganiyaan dan pembunuhan yang terjadi
Siapa yang harus disalahkan?
Septino Andarswesa
Pkl 02:13
Under Her Nose
Bogor
, 00:26am
Thursday, May 5th, 2005
UNDER HER NOSE
Cannot brake the ice
Like a cat in hot bricks
To be at a loss for words
It’s hard to breath
Cannot think clearly
Makes all things blur
Unaware about my self anymore
Cannot stand for more longer time
My conscious is going down
Like a man of straw
Every gesture
Every move that she makes
Make me feel like a never before
She’s stole my attention
Trying to have power over a half of my soul
Septino Andarswesa
01:31am
Keterbatasan Semu
Pkl 00:46
Minggu, 19 Februari 2006
Bogor
KETERBATASAN SEMU
Biar tubuhku saja yang kecil,
Tetapi jangan jiwaku
Biar mukaku saja yang tidak tampan,
Tetapi hatiku mempesona dan mengagumkan
Biarlah tampangku blo’on dan terlihat bodoh
Tetapi otakku haruslah cerdik, cerdas dan cakap untuk menaklukan dunia
Dengan kacamata tebal tersangga diatas tulang rawan hidungku,
Orang boleh saja mengolokku dengan sebutan “pantat botol”,
Tetapi biarlah kuanggap sebagai panggilan sayang
Cukup mataku saja yang cacat,
Tetapi visiku menatap tajam terhadap hidup ini
Aku memang sering kehilangan kepercayaan diri
Dan takut akan tubuh yang memenjarakanku,
Tetapi aku punya Sahabat yang selalu menguatkan dan membebaskan
Dinding rintang itu memang tinggi,
Tetapi biarlah kerendahan hati yang menghancurkannya
Dan memberikanku jalan untuk menjadi antonim keterbatasanku sendiri
Septino Andarswesa
Pkl 02:08
Emas Hijauku Yang Terampas
Pkl 21:48
Jumat, 25 Juni 2004
Bogor
EMAS HIJAUKU YANG TERAMPAS
Desing gergaji mesin, gemuruh traktor dan buldoser
Memecah keheningan dan kesunyian rimba ini
Pekak sekali
Asap tebal membumbung
Memberi warna kelabu pada langit yang tadinya biru
Sesak mencekik nafas hidup
Dari mata turun ke hati
Seperti itulah kepedihan yang terjadi
Perih mata ini telah ciptakan keperihan di hati
Burung-burung berterbangan tinggalkan sangkarnya
Kera, Celeng, dan Penghuni Hutan lain
Berlarian tinggalkan persembunyiannya
Semua mencari tempat aman
Mereka datang merampas hak hidup
Aku dan teman-temanku
Dalam hati bertanya
Siapa mereka, mengaku punya kuasa
Mengexploitasi hutan negeri ini
Kalau ini terus terjadi
Habislah emas hijau bumi pertiwi
Indonesia yang hutan rimba
Hanya tinggal cerita
Jangan Sampai itu terjadi
Biarlah Zambrut Hijau itu tetap ada di khatulistiwa Indonesia
Septino Andarswesa
Pkl 22:09
Mahakam
Pkl 23:45
Jumat, 23 April 2004
Jakarta
MAHAKAM
Malam adalah penghidupan
Modalnya dandanan dan penampilan
Tarif jasa untuk waktu singkat, tiga ratus ribu rupiah
Tarif jasa untuk semalam, delapan ratus ribu rupiah
Bisa dinegosiasikan
Kamar biru adalah ruang kerja
Kondom adalah alat keselamatan kerja
Begitulah profesi bunga ranjang
Banyak yang sukses di usia remaja
Septino Andarswesa
Pkl 23:51
Sebuah Kata Maaf
Pkl 22:19
Sabtu,12 Juli 2003
Bogor
SEBUAH KATA MAAF
Sulit sekali mengatakannya
Walau memang terlihat mudah
M mengawali didepan
Dua A bergandengan ditengah
Dan diakhiri oleh F
Aku tidak melakukan itu !
It wasn’t me honey !
Walau berjuta bukti memihak
Namun mungkin saja ada yang terlewat
Sesuatu yang diluar kendali
Datang dan menjatuhkan tanpa disadari
Memang ini seperti mengingkari logika
Dan terlihat bodoh dan hina
Akhirnya kepala ini harus tertunduk juga
Karena hari ini aku harus belajar
Tentang sebuah pengakuan
Tentang sebuah keikhlasan menerima
Dan kata itu terucap dalam kalimat kesadaran
Ok ! I’m sorry.
Aku yang salah. Maaf.
Biar saja aku yang mengalah
Biar saja aku yang merendah
Hanya demi menjaga perasaan seseorang
…………………….……
Perempuan yang kucinta
Septino Andarswesa
Pkl 22:33
Satu Titik Harapan
Pkl 00:03
Senin, 24 Februari 2003
Bogor
SATU TITIK HARAPAN
Ketika waktu ada dipundakmu,
Dan seragam punggawa negeri ada di badanmu
Mata ini lelah melihat kesesatan,
Yang penuh pembodohan
Telinga ini pekak mendengar ocehan,
Yang ternyata dusta dan kutukan
Hidung ini muak mencium bau amis darah,
Yang rupanya dari jantung saudara sendiri
Kulit ini mati rasa,
Karena selalu diselimuti hawa penindasan
Lidahpun serasa pahit,
Karena sulit menemukan manis di rumah sendiri
Asap hitam kebencian mengukir langit, awan jadi pundung
Teror pun memenuhi rongga dada, semakin sesak
Orkestra sumbang semakin sering mengaum di perutku, semakin lapar
Tulang badan pun remuk karena beban hidup, semakin berat
Ternyata engkau telah berhenti berjuang
Kepalamu telah terpolusi oleh ambisi dan kekuasaan
Keikhlasanmu telah terpasung oleh penghormatan dan penghargaan
Kejujuranmu telah terbungkam oleh harta dunia dan uang
Setelah segala pengingkaran hati nurani terjadi
Kutulis hati yang kecewa dalam sebuah puisi
Masih adakah ketegaran yang tersisa?
Dari berjuta harapan
Untuk satu titik saja
Septino Andarswesa
Pkl 00:37